PARAMETER GAS RUMAH KACA
PROSES TERBENTUKNYA GAS RUMAH KACA
Gas
rumah kaca adalah gas-gas pembentuk suatu lapisan perangkap panas di atmosfer
bumi yang dapat memantulkan kembali panas yang dipancarkan oleh permukaan bumi.
Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat
juga timbul akibat aktivitas manusia. Efek yang ditimbulkan oleh gas rumah kaca
ini disebut dengan efek rumah kaca (green
house effect).
Keberadaan
gas rumah kaca di atmosfer ibarat selimut yang membuat bumi tetap hangat.
Secara alami, konsentrasi gas rumah kaca sebenarnya berubah setiap saat yang
diikuti dengan berubahnya iklim. Periode ketika iklim menjadi hangat
menunjukkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer saat itu tinggi,
sedangkan periode ketika iklim menjadi lebih dingin menunjukkan bahwa
konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer adalah rendah. Perubahan tersebut
sebenarnya merupakan siklus alami yang terjadi dalam skala waktu ribuan bahkan
jutaan tahun setiap periode. Namun saat ini perubahan konsentrasi gas rumah
kaca tersebut tidak lagi terjadi secara alamiah, tetapi juga dipengaruhi oleh
aktivitas manusia, yang dampaknya baru disadari setelah jangka waktu lama.
Gambar 1.
Ilustrasi Terjadinya Efek Rumah Kaca
(Sumber : https://mbojo.wordpress.com/2008/07/17/hubungan-efek-rumah-kaca-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/)
Lapisan
atmosfir bumi terdiri atas troposfir, stratosfir, mesosfir dan termosfer.
Lapisan terbawah (troposfir) adalah bagian yang terpenting dalam kasus efek
rumah kaca. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi.
Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan
ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas. Yang lainnya dihamburkan dan
dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh molekul gas, awan dan partikel.
Sisanya yang 65% masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap
oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai
ke permukaan bumi. Dari 51% ini, 37% merupakan radiasi langsung dan 14% radiasi
difus yang telah mengalami penghamburan dalam lapisan troposfir oleh molekul
gas dan partikel debu. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian
dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar
inframerah.
Sinar
inframerah yang dipantulkan bumi kemudian diserap oleh molekul gas yang antara
lain berupa uap air atau H2O, CO2, metana (CH4),
dan ozon (O3). Sinar panas inframerah ini terperangkap dalam lapisan
troposfir dan oleh karenanya suhu udara di troposfir dan permukaan bumi menjadi
naik. Energi yang diserap inilah yang menghangatkan permukaan bumi sehingga
atmosfer tampak seperti halnya rumah kaca. Berikut gambaran proses yang
terjadi:
Gambar 2.
Proses Terjadinya Gas Rumah Kaca
(Sumber:
http://danialmandala.blogspot.co.id/2014/01/makalah-tetang-efek-rumah-kaca.html)
Dalam
keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan untuk menjaga perbedaan suhu saat
siang dan malam agar tidak terlalu jauh berbeda. Namun, kegiatan manusia di
Bumi seperti pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak dan gas alam),
pertanian, dan pembebasan lahan, ddapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca
di atmosfer sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan di Bumi.
PARAMETER GAS RUMAH KACA
Protokol
Kyoto mengatur enam jenis gas-gas rumah kaca, yaitu karbon dioksida (CO2),
metana (CH4), nitrogen oksida (N2O), dan tiga gas-gas
industri yang mengandung fluor (HFC, PFC, dan SF6). Karbon dioksida adalah 70 persen dari volume
total gas-gas rumah kaca ini, disusul dengan metana, nitrogen oksida, dan
sebagainya. Uap air sebetulnya adalah gas rumah kaca yang paling kuat. Tetapi karena usianya di atmosfer hanya
terbilang beberapa hari, maka potensi pemanasan globalnya (global warming
potential, GWP) tidak terlalu berpengaruh.
Tabel 1.
Parameter Gas Rumah Kaca
Berikut adalah penjelasan
mengenai 6 senyawa gas rumah kaca yang disepakati dalam Protokol Kyoto, yaitu:
1.
Karbon Dioksida (CO2)
Karbon
dioksida adalah senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen terikat
kovalen dengan atom karbon. Berbentuk gas pada temperatur dan tekanan standar
dan berada di atmosfer. Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi ± 387 pp.
Tetapi jumlah bervariasi tergantung lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah
gas rumah kaca yang penting karena mampu menyerap gelombang inframerah. Karbon
dioksida tidak berbentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm tetapi berbentuk
padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida
disebut es kering.CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2
mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda.
Karbon
dioksida diproduksi oleh hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme
dalam respirasi dan dipergunakan tanaman pada fotosintesis. Sehingga karbon
dioksida termasuk komponen yang penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida
juga dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik
dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata
air panas.
Kenaikan
konsentrasi gas CO₂ ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak
(BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan
tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. CO2 bertahan di
atmosfer lebih lama dari gas rumah kaca utama yang lain dari hasil aktivitas
manusia. Untuk gas CO2, dengan jumlah emisi gas saat ini diperlukan
waktu 1 abad, namun 20 persen darinya masih akan tetap tinggal di atmosfer
sekitar 800 tahun ke depan. Periode siklus hidup CO2 dalam atmosfer
yang begitu panjang menjadi poin penting untuk segera mengurangi emisi CO2
ke atmosfer.
Rata-rata
konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan
volume, walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon
dioksida di atmosfer bumi dianggap sebagai gas kelumit dengan konsentrasi
sekitar 385 ppm berdasarkan volume dan 582 ppm berdasarkan massa. Massa atmosfer
bumi adalah 5,14×1018 kg, sehingga massa total karbon dioksida atmosfer adalah
3,0×1015 kg (3.000 gigaton). Konsentrasi karbon dioksida bervariasi secara
musiman (terdapat di grafik). Di wilayah perkotaan, konsentrasi karbon dioksida
secara umum lebih tinggi, sedangkan di ruangan tertutup, ia dapat mencapai 10
kali lebih besar dari konsentrasi di atmosfer terbuka.
Gambar 3.
Total Emisi Gas CO2
2.
Metana (CH4)
Metana
merupakan gas yang terbentuk oleh adanya ikatan kovalen antara empat atom H
dengan satu atom C. Metana merupakan suatu alkana. Alkana secara umum mempunyai
sifat sukar bereaksi (memiliki afinitas kecil) sehingga biasa disebut sebagai
parafin. Sifat lain dari alkana adalah mudah mengalami reaksi pembakaran
sempurna dengan oksigen menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan
uap air (H2O). Metana merupakan gas yang tidak berwarna, sehingga
tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi metana dapat diidentifikasi
melalui indra penciuman karena baunya yang khas.
Metana
yang merupakan komponen utama gas alam juga termasuk gas rumah kaca. Ia
merupakan insulator yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak
bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan ke atmosfir selama produksi
dan transportasi batu bara, gas alam danminyak bumi. Metana juga dihasilkan
dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh
hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan.
Gambar 4.
Gas Metana yang dihasilkan dari Sampah
(Sumber :
http://jateng.tribunnews.com)
Metana
merupakan gas dengan emisi rumah kaca 23 kali lebih ganas dibandingkan dengan
karbondioksida. Dibutuhkan sekitar 1 dekade bagi emisi methana (CH4)
untuk meninggalkan atmosfer (yang terurai menjadi CO2). Kalkulasi
emisi gas metana yang dihasilkan oleh hewan dan manusia tiap tahunnya adalah
sebagai berikut:
·
Western
cattle: 120 kg/tahun
·
Non
western cattle: 60kg/tahun
·
Domba: 8 kg/tahun
·
Babi: 1.5 kg/tahun
·
Manusia: 0.12 kg/tahun
Konsentrasi
metana di atmosfer pada tahun 1998, dinyatakan dalam fraksi mol, adalah 1.745
nmol/mol (bagian per milyar), naik dari 700 nmol/mol pada tahun 1750. Pada
tahun 2008, kandungan gas metana di atmosfer sudah meningkat kembali menjadi
1.800 nmol/mol.
3.
Nitrogen Oksida (N₂O)
N₂O
adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari
pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen dioksida dapat
menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida. Selain itu,
dibutuhkan sekitar 1 abad untuk gas N2O untuk meninggalkan atmosfer
(yang terurai menjadi CO2).
Dari
sifat kimianya, nitrogen oksida di lapisan stratosfer dengan bantuan sinar
matahari dapat merusak ozon, sehingga menjadi pengatur utama ozon stratosfer.
Kemudian gas N2O memiliki dampak 298 kali lebih banyak menyerap
panas per satuan berat daripada karbon dioksida sehingga menjadi bagian dari gas rumah kaca. Sedangkan
untuk sifat fisisnya, gas nitrogen oksida pada suhu kamar tidak berwarna dan
tidak mudah terbakar, tetapi pada temperatur tinggi dapat digunakan sebagai oxidizer dalam peroketan dan dalam balap
motor untuk meningkatkan daya output mesin
atau menambah tenaga mesin.
Nitrogen
oksida berasal dari proses pertanian yang mengandalkan pupuk nitrogen atau
pupuk amonia yang berbahan dasar kimia.Nitrogen oksigen (N2O) juga
berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomass.
Gambar 5.
Data Emisi Gas N2O menurut IPCC di Indonesia
Tabel 2.
Perubahan Konsentrasi Gas N2O Permukaan Global
Gas
N2O mempunyai berbagai fungsi tetapi bila ada di atmosfer termasuk
salah satu gas rumah kaca yang bisa menyebabkan pemanasan global, oleh karena
itu diadakanlah konvensi protokol Kyoto yang menyatakan bahwa konsentrasi gas N2O
masing-masing negara saat ini harus dikembalikan ke kondisi pada tahun 1990
yakni sebesar 308 ppb, sedangkan gas N2O (Nitrogen Oksida) global
dari sebelum masa industri (tahun 1750) hingga tahun 1998 konsentrasinya
mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni dari 270 ppb menjadi 314 ppb
seperti ditunjukkan Tabel 1, oleh karena itu perlu diupayakan penurunan emisi
gas N2O.
4.
Chloro-Fluoro-Carbon (CFC)
CFC
merupakan zat-zat yang tidak mudah terbakar dan tidak terlalu toksik. Satu buah
molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum
dihapuskan. CFC biasanya digunakan sebagai bahan pendingin pada AC dan kulkas.
CFC dipergunakan sebagai aerosol pada penyemprotan rambut, pengharum, dan
pembasmi serangga. CFC bersifat sangat ringan sehingga mudah terangkat ke atmosfer
yang lebih tinggi. Gas ini selain mampu menahan panas juga mampu mengurangi
lapisan ozon, yang berguna untuk menahan sinar ultraviolet masuk ke dalam bumi.
CFC dapat menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan
mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV (ultraviolet)
mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi. Lapisan
ozon yang tipis dapat mengancam kehidupan makhluk hidup di permukaan bumi.
Pada
Protokol Montreal bulan September 1987, dicapai kesepakatan Internasional guna
melindungi lapisan ozon. Kesepakatan itu antara lain produksi dan penggunaan
CFC-11, CFC-12, CFC-113, CFC-114, halon, karbon tetraklorida, dan metil
kloroform harus dihentikan, kecuali untuk penggunaan khusus. Selain itu,
industri diharapkan mengembangkan bahan pengganti CFC yang bersahabat dengan
ozon (ozone-friendly).
Gambar 6.
Proses Terbetuknya Gas Rumah Kaca Akibat CFC
5.
Hidro-Fluoro-Carbon (HFCs)
HFCs
ini juga disebut sebagi Freon. Gas ini juga dihasilkan oleh pendingin-pendingin
yang menggunakan freon, seperti kulkas, AC, juga terbentuk selama manufaktur
berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan dan dapat menimbulkan
pemanasan global.
6.
Sulfur Heksafluorida (SF₆)
Konsentrasi gas
ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong
langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari
gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber
industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.
Daftar Pustaka :
Anonim. 2011. Proses Terjadinya
Gas Rumah Kaca dan Dampaknya. Tersedia dalam https://cirenggoreng.wordpress.com/2011/02/21/proses-terjadinya-gas-rumah-kaca-dan-dampaknya/
diakses pada 25 Februari 2018.
La An. 2008. Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global
dan Perubahan Iklim. Tersedia dalam https://mbojo.wordpress.com/2008/07/17/hubungan-efek-rumah-kaca-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/
diakses pada 25 Februari 2018.
Soedomo. 1999.
Pencemaran Udara. Bandung: Penerbit ITB








Komentar
Posting Komentar